BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Daerah
dan negara kita sering sekali dilanda bencana, baik itu bencana alam yang
disebabkan oleh kerusakan yang dilakukan manusia maupun oleh alam itu sendiri.
Orang-orang yang berada dan mengalami musibah tersebut tentu sedikit banyak
mengalami trauma dengan bencana yang baru saja dialaminya. Oleh karena itu
konseling traumatik membantu para klien
yang mengalami trauma tersebut.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah
pengertian Konseling Traumatik?
2. Apakah
tujuan konseling traumatik?
3. Apakah
perbedaan antara konseling traumatik dan konseling biasa?
4. Bagaimanakah
proses konseling traumatik?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari kami menulis makalah ini adalah:
1. Agar
pembaca dapat mengetahui tentang pengertian dari traumatik dan konseling
traumatik
2. Agar
pembaca dapat mengetahui tujuan dari konseling traumatik
3. Agar
pembaca dapat mengetahui perbedaan antara konseling traumatik dengan konseling
lainnya.
4. Agar
pembaca dapat mengetahui proses konseling traumatik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Seperti kita ketahui bahwa konseling merupakan salah satu bentuk
hubungan yang bersipat membantu, makna bantuan itu sendiri, yaitu sebagai upaya
untuk membantu orang lain agar mampu tumbuh kearah yang dipilihnya sendiri,
mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis
yang dialami dalam kehidupannya. Tugas konselor adalah menciptakan
kondisi-kondisi fasilitatif yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan
klien. Sementara itu, tujuan konseling mengadakan perubahan perilaku pada klien
sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan.
Trauma adalah suatu kondisi emosional yg berkembang setelah suatu
peristiwa trauma yang tidak mengenakkan, menyedihkan, menakutkan, mencemaskan
dan menjengkelkan, seperti peristiwa : Pemerkosaan, pertempuran, kekerasan
fisik, kecelakaan, bencana alam dan peristiwa-peristiwa tertentu yang membuat
batin tertekan, misalnya konseli(siswa) yang tidak lulus Ujian Nasional. Trauma
psikis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang menekan yang
menyebabkan rasa tidak berdaya dan dirasakan mengancam. Reaksi umum terhadap
kejadian dan pengalaman yg traumatis adalah berusaha menghalaukannya dari
kesadaran,namun bayangan kejadian itu tidak bisa dikubur dalam memori. Pengalaman
traumtik adalah suati kejadian yang dialami individu yang mengancam keselamatan
dirinya (Lonergan, 1999).
Konseling traumatik adalah upaya klien dapat memahami diri sehubungan
dengan masalah trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik
mungkin.
B. Tujuan
Secara lebih
spesifik, Kottman (1995)
Menyebutkan, bahwa tujuan konseling traumatik adalah :
1.
Berpikir
realistis, bahwa trauma adalah bagian dari kehidupan
2.
Memperoleh
pemahaman tentang peristiwa dan situasi yang menimbulkan trauma
3.
Memahami
dan menerima perasaan yang berhubungan dengan trauma, serta
4.
Belajar
ketrampilan baru mengatasi trauma.
C. Perbedaan
dengan Konseling Biasa
Konseling traumatik sangat berbeda dengan konseling biasa dilakukan
oleh konselor, perbedaan ini terletak pada waktu,
fokus, aktifitas, dan tujuan. Dilihat dari segi waktu konseling traumatik sangat butuh waktu yang panjang dari pada konseling biasa, kemudian dari segi fokus, konseling traumatik lebih memerhatikan pada satu masalah, yaitu trauma yang dirasakan sekarang. Adapun konseling biasa, pada umumnya suka menghubungkan satu masalah klien dengan masalah lainnya, seperti latar belakang klien, proses ketidak-sadaran klien, masalah komunikasi klien, transferensi dan conter transferensi antara klien dan konselor, kritis identitas dan seksualitas klien, keterhimpitan pribadi klien dan konflik nilai yang terjadi pada klien.
fokus, aktifitas, dan tujuan. Dilihat dari segi waktu konseling traumatik sangat butuh waktu yang panjang dari pada konseling biasa, kemudian dari segi fokus, konseling traumatik lebih memerhatikan pada satu masalah, yaitu trauma yang dirasakan sekarang. Adapun konseling biasa, pada umumnya suka menghubungkan satu masalah klien dengan masalah lainnya, seperti latar belakang klien, proses ketidak-sadaran klien, masalah komunikasi klien, transferensi dan conter transferensi antara klien dan konselor, kritis identitas dan seksualitas klien, keterhimpitan pribadi klien dan konflik nilai yang terjadi pada klien.
Dilihat dari segi aktifitas, konseling traumatik lebih banyak
melibatkan banyaknya orang dalam membantu klien dan yang paling banyak aktif
adalah konselor, konselor berusaha mengarahkan, mensugesti, memberi saran,
mencari dukungan dari keluarga dan teman klien, menghubungi orang yang lebih
ahli untuk referal, menghubungkan klien dengan ahli lain untuk referal,
melibatkan orang atau agen lain yang kompeten secara legal untuk membantu klien,
dan mengusulkan berbagai perubahan lingkungan untuk kesembuhan klien.
Dilihat dari segi tujuan, konseling traumatik lebih menekankan
pada pulihnya kembali klien pada keadaan sebelum trauma dan mampu menyesuaikan
diri dengan keadaan diri dengan keadaan lingkungan yang baru.
D. Proses
Konseling
Dalam konseling traumatik, konselor harus memiliki basic skill
yaitu knowledge, skill, dan attitude. Knowledge yang dimaksud
adalah pengetahuan mengenai sejauh mana kemampuan diri untuk menangani kasus
trauma, pengetahuan terkait klien dan menguasai teknik-teknik konseling. Skill
adalah keahlian untuk bertanya, mendengarkan dan mengobservasi. Attitude
yang dimaksud adalah kemampuan untuk EAR (Emphatic, Authentic,
Regard).
a.
Konselor harus mampu Authentic
yaitu tahu akan dirinya dan sedang tidak bermasalah sehingga mampu fokus dan
membantu orang lain.
b.
Konselor mampu mengembangkan sikap
Empahty yaitu merasakan emosi klien dan memahaminya hal ini
ditunjukkan dengan SOLER.
·
S: Square, membentuk sudut
ketika duduk jadi tidak langsung berhadapan dengan klien sehinnga posisi duduk nyaman
dan tidak kaku
·
O: Open, terbuka dan siap
untuk proses konseling
·
L: Learn toward,
bahasa tubuh condong ke depan menandakan ketertarikan, kepedulian dan
perasaan diperhatikan
·
E: Eye Contact,
memperhatikan dan mendengarkan
·
R: Relax, tenang sehingga
kliennya pun dapat bersikap tenang dan memberikan kenyamanan kepada klien.
c.
Konselor mampu menunjukkan sikap Regard
dimana menghargai dengan tidak memndang secara terus-menerus dan menyelidik
serta tidak membutuhkan pengakuan.
Sementara itu ada empat ketrampilan yang harus
dimiliki konselor dalam konseling traumatik, yaitu ;
1.
Pandangan
yang realistis
2.
Orientasi
yang holistik
3.
Fleksibelitas,
serta
4.
Keseimbangan
antara empati dan ketegasan
Proses
konseling traumatik terlaksana karena hubungan konseling berjalan dengan baik,
proses konseling traumatik adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi
makna bagi klien yang mengalami trauma dan memberi makna pula bagi konselor
yang membantu mangatasi trauma kliennya tersebut.
Adapun
tahapan-tahapan dalam konseling adalah sebagai berikut:
1.
Pembukaan: dimana konselor berkenalan dan
membangun rapport kepada klien. Pada fase ini merupakan titik penentu
pembangunan kepercayaan klien terhadap konselornya sehingga skill
membangun hubungan yang baik dan mau menerima dengan tampilan gesture dan
bahasa tubuh serta penggunaan kalimat perlu diperhatikan sesuai dengan
penjelasan di atas.
2.
Penggalian Masalah: dimana konselor mengeksplorasi
permasalahan trauma klien dengan
a.
Meminta klien untuk menggambarkan
kejadian traumatik yang mereka alami, apa yang mereka lihat dan dengar
b.
Meminta klien untuk menggambarkan
reaksi kognitifnya terhadap peristiwa traumatik tersebut
c.
Menolong klien untuk mengenali emosi-emosi
yang menyertai kejadian tersebut
d.
Menanyakan reaksi-reaksi klien
setelah kejadian
3.
Pencarian Solusi: pencarian solusi klien terhadap
permasalahan traumanya yang diawali
a.
Menginformasikan kepada klien
bahwa trauma yang telah diceritakan adalah suatu bentuk dari memori. Trauma
cenderung membuat memori menjadi beku dan membekukan klien sehingga sering
membuat mereka tidak mampu mengambil tindakan lebih lanjut. Konselor memiliki
tugas untuk me-reframe flashback dalam upaya penyembuhan dari
pengalaman traumatik agar mereka dapat mengembangkan hidupnya lebih lanjut. Membuat
klien menyadari kejadian traumatiknya adalah sangat penting sebagai suatu
transisi kehidupan dan hal itu normal saja. Your responses are
NORMAL reactions to ABNORMAL events
b.
Klien diajak untuk berani
menghadapi perasaannya yang ditekan akibat trauma. Hal ini bukan persoalan
mudaj karena kebanyakan mereka tidak mau atau takut untuk merasakan emosi itu
kembali. Tapi yang terpenting bagi klien adalah menghadapi emosi-emosi
negatifnya (marah, cemas, takut,sedih,berduka).
c.
Mengajak klien melakukan bentuk
coping lain tidak hanya berthan pada mekanisme pertahanan diri saja. Klien
diajak untuk mampu membicarakan kejadian traumanya dengan orang lain , membaca
tulisan-tulisan atau melihat televisi yang berkaitan dengan kejadian traumanya.
Hal ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kejadian
traumatiknya dan mampu mnegurangi perasaan-perasaan negatifnya.
d. Menolong klien untuk mengidentifikasi pemicu reaksi-reaksi traumanya
dan mengajari bagaimana mengendalikan. Cara-cara yang bisa dilakukan adalah
dengan mengajari klien relaksasi, menarik nafas dalam-dalam dengan diikuti self-talk
4. Penutup: mereview dan memberi dukungan
kepada klien untuk mampu menjalankan kesepakatan di konseling dan menentukan
kesepakatan jadwal untuk sesi berikutnya. Konselor memberikan self
monitoring untuk dikerjakan sebelum sesi kedua. Selanjutnya konselor
mengevaluasi hasil konseling dan menentukan langkah selanjutnya untuk
penanganan traumatik klien.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Konseling traumatik adalah upaya klien
dapat memahami diri sehubungan dengan masalah trauma yang dialaminya. Yang berusaha untuk
mengatasinya sebaik mungkin. Konseling
traumatik berbeda dengan konseling biasa, yaitu perbedaanya
terletak pada waktu, fokus,
aktifitas, dan tujuan.
B.
Saran
Karena
di negara kita sering
sekali dilanda bencana, maka konseling traumatik sangat dibutuhkan. Untuk melakukan konseling
traumatik ini tidak sembarang
orang dapat melakukannya. orang yang melakukan konseling traumatik ini harus memiliki
keprofesionalan. Agar hasil dari konseling
traumatik tersebut sesuai dengan
yang kita harapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar!!